Minggu, 20 Februari 2022

Konsep buku Nonfiksi

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI 

Resume

Pertemuan       : 15

Kelas                : Gel. 23

Materi              : Konsep buku Nonfiksi

Narasumber    : Musiin, M. Pd

Moderator       : Dail Ma'ruf

 

Di pertemuan ke-15 ini kami belajar tentang "Konsep Buku Nonfiksi".  Materi akan disampaikan oleh narasumber cantik Bu Musiin, M. Pd beliau adalah alumni BM angkatan 8 Lahir di kota Tahu Takwa Kediri dan merupakan seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998 . Kelas Belajara Menulis PGRI memang luar biasa karena  setiap angkatan dari BM yang ditaja oleh PGRI bisa dipastikan akan lahir moderator dan narasumber baru untuk angkatan-angatan dibawahnya. ini menunjukkan bahwa kelas belajar menulis dari PGRI berhasil dengan saangat baik. Oh ya, sebagai moderator adalah bapak yang selalu memberi solusi di grup yaitu pak Dail Ma'ruf. 

 

 Seperti biasa ada apersepsi di awal pertemuan, kali ini Bu IIn memberikan motivasi agar tiadaka ragu-ragu untuk menjadi seorang penulis. Peserta diminta untuk menghilangkan rasa seperti yang pernah beliau rasakan sebelumnya. Rasa kurang percaya diri yang kadang-kadang mengahntui pikiran penulis pemula. Seperti rasakan ketika menulis buku adalah sebagai berikut:

1.    Takut tidak ada yang membaca.

2.    Takut ssalah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan.

3.    Merasa karya orang lain lebih bagus.

 Ini adalah buku solo Bu IIN yang diterbitkan setelah mengikuti belajar menulis di kelas yang ditaja PGRI dengan judul Literasi Digital Nusantara Meningkatkan Daya Saing Generasi. Buku ini adalah hasil menyelesaikan tantangan dari Prof Ekoji yang sekarang sudah dijual di Gramendia di terbitkan di penerbit mayor. Awalnya beliau minder menulis sekarang sudah menjadi penulis.

      

Untuk menjadi seorang penulis hendaknya sadarkan diri mengapa kita ingin menjadi penulis. Temukan alasan penguat untuk menjadi seorang penulis atau alasan yang tepat untuk menulis. Sedangkan bu IIN mempunyai alasan khusus agar beliau terus menulis alasan beliau menulis adalah sebagai berikut:

1. Mewariskan ilmu lewat buku.
2. Ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline.
3. Mengembangkan profesi sebagai seorang guru.

 

yang paling membuat saya terkesan dalam paparan Bu iin yaitu kalimat berikut ini, 

  

Kalimat ini sangat benar, saya bukan lah sia-siapa sebaiknya saya menulis. Berbagi ilmu itu penting atau pun hanya untuk meluahkan isi hati atau pengalaman yang ada dalam diri. Dalam menulis kita sering menemukan hambatan antara lain:

    • Hambatan waktu
    • Hambatan kreativita
    • Hambatan teknis
    • Hambatan tujuan
    • Hambatan psikologis

Cara mengatasi hambatan  untuk menulis. Solusi itu ada di diri kita sendiri.

  • Banyak membaca 
  • Mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan nara sumber 
  • Disiplin menulis setiap hari. 
  • Lakukan apa-apa yang menjadi kegemaran kita untuk merefresh pikiran.

Kemudian dalam menulis nonfiksi maka kita dapat mengambil ide dari sebuah buku dengan tema nonfiksi pula seperti parenting, pendidikan, motivasi dan lain-lain. Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya

  • Pengalaman pribadi 
  • Pengalaman orang lain 
  • Berita di media massa 
  • Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram 
  • Imajinasi, mengamati lingkungan, perenungan, dan membaca buku. 

 Seperti  Bu IIn beliau mengangkat tulisan beliau dengan tema pendidikan. Jadi jika ide itu datang segera ditulis. karena ide itu mudah datang dan juga mudah pergi.

Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola yakni:

  • Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit) Contoh: Buku Pelajaran. 
  • Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses).Contoh: Buku Panduan. 
  •  Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara)

Pola yang Ibu Musiin pakai dalam menulis buku Literasi Digital Nusantara adalah pola ketiga yakni Pola Klaster. Proses penulisan buku terdiri dari 5  langkah, yakni

  • Pratulis 
  • Menulis Draf 
  • Merevisi Draf 
  • Menyunting Naskah 
  • Menerbitkan

Langkah Pertama : Pratulis

  • Menentukan tema
  • Menemukan ide
  • Merencanakan jenis tulisan
  • Mengumpulkan bahan tulisan
  • Bertukar pikiran
  • Menyusun daftar 
  • Meriset 
  • Membuat Mind Mapping 
  • Menyusun kerangka

 Referensi penulisan buku bisa dari sumber berikut ini.

  •  Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;
  •  Keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal
  •  Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;
  •  Penemuan yang telah didapatkan.

Bagaimana supaya kemampuan menulis Karya non fiksi kita makin terasah? membuat kerangka.Kerangka ini saya ajukan ke Prof. Eko dan disetujui untuk melanjutkan ke proses penulisan.

 BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

  • A. Pembagian Generasi Pengguna Internet 
  • B. Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

  •  A. Media Sosial
  •  B. UU ITE
  •  C. Kejahatan di Media Sosial

 BAB 3 Literasi Digital

  •  A. Pengertian
  •  B. Elemen
  •  C. Pengembangan
  •  D. Kerangka Literasi Digital
  •  E. Level Kompetensi Literasi Digital
  •  F. Manfaat
  •  G. Perapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi
  •  H. Kewargaan Digital

 BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

    •  A. luarga
    • B. Sekolah
    • C.  Masyarakat

 BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

  •  A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia
  • B.  Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia
  • C.  Membangun Digital Mindset Warganet +62    

 Berikut ini adalah Anatomi buku yang harus kita ketahui yaitu.

  • Halaman Judul
  • Halaman Persembahan (OPSIONAL)
  • Halaman Daftar Isi
  • Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)
  • Halaman Prakata
  • Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
  • Bagian /Bab
  • Halaman Lampiran (OPSIONAL)
  • Halaman Glosarium
  • Halaman Daftar Pustaka
  • Halaman Indeks
  • Halaman Tentang Penulis

Langkah kedua : Menulis Draf

  •  Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas
  •  Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

 Langkah ketiga : Merevisi Draf

  •  Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian
  •  Memeriksa gambaran besar dari naskah

 Langkah keempat : Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)

  • Ejaan
  • Tata bahasa
  • Diksi
  • Data dan fakta
  • Legalitas dan norma

Alhamdulillah, ahirnya selesai juga resume ke-15 perjuangan yang luar biasa untuk menyelesaikannya dua hari kehilangan akses internet karena aplikasi chrome tidak berfungsi untuk membuka blok dan akhirnya mencopa dengan Mosilla firefox yang lola sangat menggetarkan jiwa. Begitulah tantangan dan hambatan dalam menulis belum lagi si batita yang selalu menyapa dengan jari-jari kecil di tombol-tombol keyboardku. Terima kasih Bu IIN dan Pak dail. salam sehat dan salam literasi.

Sabtu, 19 Februari 2022

Menulis Buku Terbaik Perpusnas

  PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI 

Resume

Pertemuan       : 14

Kelas                : Gel. 23

Materi              : Menulis Buku Terbaik Perpusnas

Narasumber    : Dr. Mudafiatun Isriyah

Moderator       : Widya Setianingsih


Peluang yang begitu besar untuk meningkatkan kemampuan berliterasi di zaman digital saat ini. Setelah belajar dari beberapamateri di pelatihan Belajar Menulis PGRI hari ini kami disuguhkan materi dengan tema “Menulis Buku Terbaik Perpusnas” oleh narasumber cantik Dr. Mudafiatun Isriyah,   beliau  adalah seorang dosen dan pengajar di FIP prodi BK UNIPAR Jember. Beliau lahir di Lumajang, 21 April 1969. Jika ingin mengenal dan berkeperluan maka bias menghubungi beliau di no Hp 082226529305. Sebagai moderator malam pertemuan ke-14 ini adalah ibu cantik Widya Setianingsih. 




Bu Muda adalah seorang penulis terbaik Perpusnas, malam ini kita akan mengulik habis rahasia Beliau hingga meraih kesuksesan. Buku duet dengan Prof Ekoji yang berjudul : Implementasi Social Presence dalam Bimbingan Online dalam Perspektif Komunikasi Personal, Interpersonal dan Impersonal ISBN: 978-623-01-0786-3. Menghantarkan Beliau menjadi Pemenang Buku Terbaik 1 (Tema Pendidikan Jarak Jauh) Perpusnas 13 September 2021) .Ini adalah foto Beliau saat menerima penghargaan, bersama profesor Richardus Eko Indrajit


Menurut Bu Muda, menulis sama dengan keterampilan-keterampilan yang lain seperti keterampilan membuat kue, membuat anyaman, berhitung, komputer, dan lain-lain yang dapat diperoleh dengan cara mempelajarinya dan mempraktikkannya. Setiap keterampilan yang diperoleh dengan cara mempraktikkannya harus sering diulang-ulang atau dilatih secara menerus atau berkesinambungan.

 Menulis sama dengan keterampilan-keterampilan yang lain seperti keterampilan membuat kue, membuat anyaman, berhitung, komputer, dan lain-lain yang dapat diperoleh dengan cara mempelajarinya dan mempraktikkannya. Setiap keterampilan yang diperoleh dengan cara mempraktikkannya harus sering diulang-ulang atau dilatih secara menerus atau berkesinambungan.

Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa walaupun kita bukan guru bahasa Indonesia sudah seharusnya orang Indonesia yang ingin menulis dalam bahasa Indonesia maka selanjutnya,  suka atau tidak suka menjadi suatu  keharusan bisa menulis atau mengarang dengan Bahasa Indonesia dengan benar. Untuk menjadi seorang penulisdan akan mengajarkannya  pada orang lain maka penulis harus mengajarkan menulis pernah memiliki pengalaman menulis. Terbiasa menulis karangan, pengarang dapat mengajarkan mengarang dengan baik kepada para siswanya. 

wawasan tentang konsep menulis dan konsep menulis sebagai proses.

  1. Menjelaskan pengertian menulis;
  2. Menguraikan manfaat menulis;
  3. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab keengganan seseorang dalam menulis;
  4. Menerangkan mitos-mitos dalam menulis;
  5. Menemukan hubungan menulis dengan berbagai aspek keterampilan berbahasa lainnya;
  6. Menjelaskan pengertian menulis sebagai proses;
  7. Menjabarkan setiap fase dalam proses menulis.

 Ada empat unsur komunikasi berbahasa (verbal) yang terjadi dalam proses menulis, yaitu.    

1. Penulis sebagai penyampai pesan, 

2. Pesan atau sesuatu yang disampaikan penulis,

3. Saluran atau medium berupa lambang-lambang bahasa tulis seperti huruf dan tanda                         baca, serta

4. Penerima pesan, yaitu pembaca, sebagai penerima pesan yang disampaikan oleh penulis.

Fungsi menulis secara personal,

    1.  Mengekspresikan pikiran, sikap, atau perasaan pelakunya, yang diungkapkan melalui misalnya surat atau buku harian.
    2. Fungsi instrumental (direktif), yaitu mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.
    3. Fungsi interaksional, yaitu menjalin hubungan sosial.
    4.  Fungsi informatif, yaitu menyampaikan informasi, termasuk ilmu pengetahuan.
    5. Fungsi estetis, yaitu untuk mengungkapkan atau memenuhi rasa keindahan.

Tujuan Menulis:

a. Mengubah keyakinan pembaca.

b. Menanamkan suatu pemahaman kepada pembaca.

c. Merangsang proses berpikir pembaca.

d. Menyenangkan dan menghibur pembaca.

e. Memberitahu pembaca.

f. Memotivasi pembaca

Manfaat Menulis adalah

a Peningkatan kecerdasan.

b Pengembangan insiatif dan kreativitas.

c Penumbuhan keberanian.

d Pendorong kemauan dan keterampilan mengumpulkan informasi.

Menurut Hairston (Nursisto, 1999: 8) juga mamaparkan beberapa manfaat menulis sebagai berikut.

a Sarana untuk menemukan sesuatu.

b Memunculkan ide baru.

c Melatih keterampilan mengorganisasi dan menjernihkan sebagai

konsep atau ide.

d Melatih sikap objektif pada diri seseorang.

e Membantu meyerap dan memproses informasi.

f Melatih untuk berpikir aktif

Bila mendapatkan ide, segeralah menulis di kertas, buku catatan atau media lainnya agar bisa ditindak lanjuti bila telah punya waktu untuk memulai proses penulisan. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari hilangnya ide saat itu. Ide biasanya didapatkan dari berbagai sumber, antara lain dengan: membaca buku,membaca jurnal ilmiah, berdiskusi, menghadiri seminar, mengamati fenomena di masyarakat, atau berasal dari sumber lainnya. Terimakasih bu Muda sebagai narasumber dan bu widya sebagai moderator.


Selasa, 15 Februari 2022

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

 PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI 

Resume

Pertemuan       : 13

Kelas                : Gel. 23

Materi              : Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Narasumber    : Susanto, S. Pd

Moderator       : Muliadi

Proofreading sebelum menerbitkan Tulisan sangat penting, membaca beberapa kali sebelum tulisan diterbitkan akan menemukan beberapa tulisan kita yang kurang huruf atau salah ketik, atau salah pemilihan kata. Cara ini sangat diperlukan sehingga ketika tulisan kita dipublikasikan maka akan mudah  dipahami oleh pendengar atau pembaca. 

Materi pada pertemuan ke tiga belas ini dengan tema Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan disampaikan oleh Bapak Susanto, S. Pd beliau sehari-hari mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar di kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatra Selatan. Pak D Sendiri adalah alumni kelas BM angkatan 15. Sedangkan moderator yang membersamai materi ini adalah Pak Mulyadi.

Proofreading atau kadang disebut dengan uji-baca adalah membaca ulang sebuah tulisan, tujuannya adalah untuk memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam teks tersebut. Untuk mengawali pertemuan malam ini Pak D membuat sebuah kalimat dan meminta peserta untuk melakukan Proofreading dan ada beberapa peserta melakukkannya dan ini salah satu contoh dari hasil proofreading oleh peserta.

Kalimat yang beliau kutip:

"Hmm...aku akan mulai membuat cerita fiksi berdasarkan kiat-kiat dari Pak Mazmo." Kata Cici.

Masih bisa diperbaiki:

"Hmm ... aku akan mulai membuat cerita fiksi berdasarkan kiat-kiat dari Pak Mazmo," kata Cici.

Tanda Elipsis/Titik Tiga (...)  dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan, biasanya untuk memberikan jeda pada dialog. Menurut PUEBI tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi. Mengapa kata "kata" ditulis dengan huruf kecil? Hal ini berkaitan dengan aturan penulisan "dialog tag". 

Perlu diketahui ada perbedaan antara editing dan proofreading

EDITING

PROOFREADING

 

Editing lebih fokus pada aspek kebahasaan

 

 

 

Melakukan proofreading, kesalahan yang dimaksud di sini termasuk kesalahan penggunaan tanda baca, ejaan, konsistensi dalam penggunaan nama atau istilah, hingga pemenggalan kata dapat diminimalkan.

proofreading tidak sekadar menyoroti kesalahan tanda baca atau ejaan, tetapi juga logika dari sebuah tulisan, apakah sudah masuk di akal atau belum.

 


Sebagai seorang proofreader harus mampu memahami yang mana kalimat aktif, apakah susunan sudah tepat atau belum dan apakah subtansi sebuah tulisan dapat dipahami oleh pembaca. Jadi menjadi proofreader tidak hanya membetulkan ejaan atau tanda baca saja. Namun juga yang paling penting  dari tugas seorang proofreader adalah dia harus bisa membuat teks mudah dipahami pembaca dan tidak kehilangan substansi bacaan tersebut .

 Mengapa harus melakukan proofreading?

Membaca ulang tulisan yang sudah selesai kita tulis itu suatu keharusan, meskipun ada pepatah mengatakan “ berpikir dulu sebelum berkata-kata” namun sedikit berbeda pada hal menulis “ Tulis dulu menjadi tulisan, baca dan pikirkan kesesuaiannya” he...he...

Dengan membaca ulang apa yang telah kita tuliskan maka akan menemukan kekurangan yang dapat kita sempurnakan. Hal-hal kecil akan sering kita lakukan dalam penulisan misalnya kesalahan pengetikan satu huruf saja sudah mengubah arti atau makna dan satu kalimat. Saya contohkan “ saya akam perhi ke padar” seharusnya kalimat tersebut diketik menjadi “ saya akan pergi ke pasar” jadi kesalah tiga huruf dalam kalimat tersebut sudah membuat pembaca bingung. Tulisan atau cerita yang ditulis menarikpun akan kehilangan subtansinya jika terjadi banyak kesalahan dalam pengetikan.

 Menurut Pak D berikut ini Langkah-langkah untuk memulai proofreading

1. Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan                         memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian.

2. Merevisi penggunaan bahasa: kata, frasa dan kalimat serta susunan paragraf untuk                         meningkatkan aliran teks.

3. Memoles kalimat untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi     gaya. Memperbaiki kalimat kalimat yang ambigu.

4. 1.  Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit

     2.  Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI

     3.  Konsistensi nama dan ketentuannya

     4.  Perhatikan judul bab dan penomorannya

5. Hindari kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan    penyingkatan kata.

5. Kesalahan kecil lainnya misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik,           tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata        yang mengikutinya.

Berikut ini adalah cara pak D belajar PUEBI dengan membuat flyer.

 






Penting sekali bagi penulis yang baru belajar menulis seperti saya untuk melakukan proofreading, betul kata Pak d biarkan dulu tulisan yang baru selesai diketik dalam beberapa menit atau bahkan satu malam. Setelah mendapattkan energi baru, mulailah menjadi proofreader untuk tulisan sendiri. Ilmu yang luar biasa. terimakasih Pak D Susanto narasumber hebat dan moderator semoga selalu dalam keberkahan. Salam literasi, sehat selalu.





 

 

 

Membuat Cover Buku yang Menarik

 PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI Resum e   Pertemuan       :  27 Kelas               : Gel. 23 Materi              : Membuat Cover ...